Sabtu, 16 Juli 2011

Hukum Perayaan Malam Nisyfu Sya’ban

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :

“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu “.
(QS. Al Maidah : 3).

Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):

“Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari Muslim)

dalam riwayat Muslim (yang artinya):

“Barang siapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama) maka ia tertolak”.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, yang semuanya menunjukan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka. Dia tidak mewafatkan nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassallam kecuali setelah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan.

Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya bid’ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para sahabat dan ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan-perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya. Hal ini disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid’ah seperti Ibnu Wadhah dan Abi Syamah dan lainnya.

Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam nisyfu sya’ban dan mengkhususkan hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, memang ada beberapa hadits yang menegaskan keutamaan malam tersebut akan tetapi hadits-hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang menegaskan keutamaan shalat pada hari tersebut adalah maudhu’ (palsu).

A1 Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif ‘ mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah dan hadits-¬hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.

Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadits walbida’ : “Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :”kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisyfu sya’ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam¬-malam lainnya”.

Dikatakan kepada Ibnu Maliikah bahwasanya Ziad Annumari berkata:
“Pahala yang didapat (dari ibadah ) pada malam nisyfu sya’ban menyamai pahala lailatul qadar.
bnu Maliikah menjawab : Seandainya saya mendengar ucapannya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dia. Ziad adalah seorang penceramah.

Al Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, fawaidul majmuah, sebagai berikut : Hadits : “Wahai Ali barang siapa melakukan shalat pada malam nisyfu sya’ban sebanyak seratus rakaat : ia membaca setiap rakaat Al Fatihah dan Qulhuwallahuahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala …. dan seterusnya.
Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu ‘ dan perawi¬-perawinya majhul.

Dalam kitab “Al-Mukhtashar” Syaukani melanjutkan : “Hadits yang menerangkan shalat nisfu sya’ban adalah batil” .

Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : “…Jika datang malam nisfu sya’ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya”. Inipun adalah hadits yang dhaif.

Dalam buku Al-Ala’i diriwayatkan :
“Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam nisfu sya’ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat”. Hadits riwayat Ad-Dailamy, hadits ini tidak maudhu; tetapi mayoritas perawinya pada jalan yang ketiga majhul dan dho’if.

Imam Syaukani berkata : “Hadits yang menerangkan bahwa dua belas raka’ at dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu’. Dan hadits empat belas raka’at ….dst adalah maudhu”.

Para fuqoha’ banyak yang tertipu oleh hadits-¬hadits maudhu’ diatas seperti pengarang Ihya’ Ulumuddin dan sebagian ahli tafsir. Telah diriwayatkan bahwa sholat pada malam itu yakni malam nisfu sya’ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia semuanya adalah bathil (tidak benar) dan haditsnya adalah maudhu’.

Al-Hafidh Al-Iraqy berkata : “Hadits yang menerangkan tentang sholat nisfu sya’ban maudhu’ dan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam.
Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi berkata :”Shalat yang sering kita kenal dengan shalat ragha’ib berjumlah dua belas raka’at dikerjakan antara maghrib dan isya’ pada malam jum’at pertama bulan rajab, dan sholat seratus raka’at pada malam nisfu sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan mungkar.

Tak boleh seorangpun terpedaya oleh kedua hadits tersebut hanya karena telah disebutkan didalam kitab Qutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin, sebab pada dasarnya hadits-haduts tersebut bathil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits yaitu dari kalangan a’immah yang kemudian mengarang lembaran-¬lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits tersebut.

Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma’ il Al-Maqdisy telah mengarang suatu buku yang berharga; beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas.
Dalam penjelasan diatas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam nisfu sya’ ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya degan puasa itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya didalam syari’at Islam ini, bahkan hanya merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat. Marilah kita hayati ayat Al-Qur’an dibawah ini (yang artinya):
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam sebagai agamamu”.

Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat diatas. Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak”. (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda (yang artinya):
“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jum ‘at dari pada malam-malam lainnya dengan suatu sholat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa dari pada hari-hari lainnya, kecuali jika sebelum hari itu telah berpuasa” (HR. Muslim).

Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukankah malam jum’at itu lebih baik dari pada malam-malam lainnya, karena hari jum’at adalah hari yang terbaik yang disinari oleh matahari ? Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam yang shohih.

Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu ini menunjukkan malam yang lainnya lebih tidak boleh lagi. Kecuali jika ada dalil yang shohih yang mengkhususkannya.

Manakala malam lailatul Qadar dan malam¬-malam bulan puasa itu disyari’atkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada ummatnya agar supaya melaksanakan¬nya, beliaupun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan didalam hadits yang shohih (yang artinya):
“Barang siapa melakukan sholat pada malam bulan ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap pahala niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa yang melakukan sholat pada malam lailatul Qadar dengan penuh rasa iman niscaya Allah akan mengampuni dosa yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alahi).

Jika seandainya malam nisfu sya’ban, malam jum’at pertama pada bulan rajab, serta malam isra’ mi’raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan kepada ummatnya atau menjalankannya sendiri. Jika memang hal ini pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia clan yang paling banyak memberi nasehat setelah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Dari pendapat-pendapat ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam malam nisfu sya’ban dan malam jum’at pertama pada bulan Rajab.

Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bidah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.

(Diringkas/ disadur dari kitab Tahdzir minul bida’ karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Oleh An Nafi’ah dan redaksi).

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=330

Jumat, 15 Juli 2011

Asal usul “NUR MUHAMMAD”…?

Ada kemiripan faham “Nur Muhammad” dalam Tasawuf, “Firman” dalam Injil Yohanes, dan “Logos” dalam Filsafat Neo Platonisme.

Injil Yohanes 1 : 1-14 mengutip ajaran logos ini, menurut pengertian Heraklitus, Stoa dan Platonis, isi kalimatnya sebagai berikut :

“Maka awal pertama adalah logos dan logos itu bersama-sama dengan Allah. Logos juga Allah dan segala sesuatu dijadikan olehnya, segala suatu yang telah terjadi. Dan logos itu telah menjadi Manusia dan tinggal bersama kita”

KONSEP FILSAFAT YUNANI

Plato memberi Orpheus untuk mengatakan (Dalam Tim. I, 312.26 dan seterusnya, dan 324.14 dan seterusnya, rujuk Proclus ibid., halaman 168).

…bahwa segala sesuatu tercipta dalam Zeus, setelah penelanan Phanes, walaupun penyebab segala sesuatu dalam kosmos muncul terutamanya dan dalam bentuk bersatu di dalamnya (sc. Phanes), mereka muncul secara sekunder dan dalam bentuk tertentu dalam Demiurge. Matahari, bulan, langit sendiri, segala elemen, dan Eros yang menjadi penyatu – semuanya wujud sebagai satu kesatuan ‘yang bercampur bersama dalam perut Zeus’ (Orph. Dari 167b.7 Kern).

Orang Yunani, dari Parmenides, mengubah konsep itu kepada Monisme, yang menjadikan Yang Esa hadir. Namun Proclus menunjukkan bahwa konsep-konsep ini, khususnya Idea-idea yang berasal dari Kehendak Nous, mempunyai asal-usul mereka dalam Chaldean Oracles (Kata-kata Hikmah Kasdim) (dari 37 Des Places):

Intelek Nous terpancar, melahirkan dengan kehendaknya yang tidak lelah kepada
Idea-idea berbagai bentuk; dan mereka keluar melayang dari sumber tunggal ini
Karena ini adalah nasihat dan pencapaian Nous. Namun mereka dibagikan oleh api kebijaksanaan
dan disebarkan di kalangan makhluk-makhluk bijaksana yang lain. Karena tuan mereka telah meletakkan di hadapan kosmos berbagai bentuk ini satu model berakal yang kekal; dan kosmos berusaha sederhana untuk mengikuti jejak awalnya. Dan muncul dalam bentuk yang ia ada dan dipenuhi dengan berbagai jenis Idea. Untuk semua ini terdapat satu sumber, namun sementara mereka memecah keluar banyak yang lain telah berpecah dan tersebar melalui jasad-jasad kosmos, berkerumun seperti lebah sekitar ruangan-ruangan besar dunia, dan berputar-putar dalam berbagai arah. Idea-idea bijaksana ini, yang keluar dari sumber Nous, memegang pada kobaran api yang besar. Pada detik utama waktu yang tidak terhenti. Sumber Nous yang utama dan serba mencukupi ini telah memancar keluar Idea-idea generatif utama ini.

————————————————————-
KONSEP KRISTIANI

PADA MULANYA ADALAH FIRMAN ( Yohanes 1:1-14)

1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

2. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

3. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

4. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. dst 6 s/d kita lewati.

6. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes.

7. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

8. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

9. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

10. Ia telah ada di dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

11. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

12. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.

13. orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

14. Firman itu telah menjadi manusia, diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak tunggal bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Berbeda dengan penulis-penulis Injil lainnya, Yohanes tidak memulai Injilnya dengan pengenalan langsung dari Yesus yang historis. Sebaliknya ia menuntun pembacanya kepada Firman (bahasa Yunani ‘LOGOS’), yang dipersamakan dengan Yesus pada akhir prolognya. Tak dapat disangkal, bahwa caranya menjurus kepada peristiwa-peristiwa historis ini, mempunyai pengaruh besar pada tafsiran keseluruhan kitab. Justru pengertian tentang arti “Firman” sebagaimana istilah ini dimengerti oleh pembaca pertama Injil ini penting sekali, sekalipun ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai pernyataan ini. Satu tumpuan pendapat yang kuat mempertahankan hubungan-hubungan ide itu dengan dunia pemikiran Yunani. ‘LOGOS’ adalah kata Yunani yang searti dengan “firman”, kadang-kadang ditulis ‘RHEMA’. Padanan kata Ibrani “DABAR”, berarti yang diucapkan maupun hal yang dikerjakan, atau suatu perkara. Dalam sastra Yohanes, ‘LOGOS’ menunjukkan Firman yang berpribadi. Istilah ‘LOGOS’ dipakai di kalangan para Stoa dalam menggambarkan prinsip budi ilahi ‘LOGOS SPERMATIKOS’ yang menyebabkan bertumbuhnya ciptaan alamiah. Ide ini lebih menyeluruh diperkembangkan selaku sesuatu yang berdiri sendiri dimana ide itu digunakan selaku alat melalui mana dunia diciptakan. Bahwa sebelum penciptaan, Firman telah ada. “Pada mulanya adalah Firman”, ‘EN ARKHE EN HO LOGOS’. Pernyataan Yohanes bahwa Firman itu adalah “hidup” (‘ZOE’) menyusul secara logis dari kegiatan kreatif-Nya. Pandangan tentang Firman selaku sumber hidup adalah asasi bagi Injil ini, karena Yohanes menyatakan tujuannya: agar pembaca memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Pada mulanya, sebelum dunia dijadikan, Firman sudah ada. Firman ada bersama Allah dan Firman sama dengan Allah. Sejak semula ia bersama Allah. Segalanya dijadikan melalui Dia, dan dari segala yang ada, tak satupun dijadikan tanpa Dia. ( Injil Johanes : 1 : 1-3)

—————————————————————————–

KONSEP TASAWUF (YANG KELIRU) DALAM ISLAM

Sebelum dunia dijadikan Nur Muhammad sudah ada, segalanya dijadikan melalui Nur Muhammad, Segalanya dijadikan melaui Dia, dari segala yang ada, tak satupun dijadikan tanpa Dia. (Kitab Daqoiqul Akbar – Al Imam Abdurrahman bin Ahmad Qodhi)

Bandingkan dengan Hadits-hadits palsu ( مَوْ ضُوْع ) dan Hadits yang tidak jelas asal usulnya ( لاَ اَصْلَ لَهُ ) di bawah ini !

إِنَّ اللهَ خَلَقَ رُوْحَ النَّبِي صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَاتِهِ وَ خَلَقَ العَا لَمَ بِأَسْرِهِ مِنْ رُوْحِ محُمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم

“Bahwa Allah menjadikan Ruh Nabi Muhammad ( Nur Muhammad ) daripada Dzat-Nya. Dan dijadikan Alam seluruhnya dari pada Ruh Nabi Muhammad (Nur Muhammad)” ( Al Hadits, bagaimana Matan dan Sanadnya ? )

خَلَقْتُ الأَ شْيَاءَ ِلأَجْلِكَ وَخلَقْتُكَ ِلأَجْلِى

“Aku jadikan sesuatu adalah karenamu ya Muhammad, dan aku jadikan kamu adalah aku”

أَنَا مِنَ اللهِ وَالمُؤْمِنُوْنَ مِنِّى

“Aku yang pertama dijadikan, (yakni Nur Muhammad), dan sekalian mu’min adalah daripadaku”

اَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُوْرُ نَبِيِّكَ ياَ جَابْر

” Pertama yang dijadikan Allah adalah Cahaya Nabimu (Nur Muhammad), Wahai Jabir “

خَلَقْتُ نُوْرَ مُحَمَّدٍ إِثْنَى اَلْفِيْنَ سَنَةٍ قَبْلَ خَلَقْتُ آ دَمَ

“Kujadikan Nur Muhammad 2000 tahun sebelum kujadikan Adam”

اِنَّ اللهَ قَبَضَ قَبْضَةً مِنْ نُوْرِهِ فَقَالَ لَهَا : كُوْنِي مُحَمَّدًا

“Sesungguhnya Allah menggenggam segenggam cahaya, lalu berfirman, Jadilah engkau Muhammad” !

لمَاَّ اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ : يَا رَبِّ أَسْاءَ لُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدِ لِمَا غَفَرْ تَ لِي

“Ketika Adam melakukan kesalahan, dia berkata, Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad untuk mengampuniku”

Coba anda bandingkan Kata Sabda, Firman, atau Logos dengan Nur Muhammad di atas !

——————————————————————————————–

PANDANGAN ISLAM YANG SEBENARNYA

Bahwa hanya Malaikat yang diciptakan dari “Nur”, sedangkan manusia di ciptakan asalnya adalah dari “Tanah”. Apakah Nabi Muhammad termasuk Malaikat ? Padahal Nabi dilahirkan seperti manusia biasa. Maka Allah menyuruh Nabi Muhammad mengatakan :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (QS. Al Kahfi : 110)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ dan Abdu bin Humaid, berkata Abdu: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “

Malaikat diciptakan dari cahaya (nur), Jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.” (HR. Muslim No. 5314)

Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. [QS. Ali Imron :59]

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al A'raf :54]

Hadits palsu tersebut juga bertentangan dengan sabda Nabi :

إن أول ما خلق الله تعالى القلم، فقال له: اكتب، فجرى في تلك الساعة بما هو كائن إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya, pertama-tama yang diciptakan Allah Ta’ala adalah qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya : Tulislah ! Maka ditulislah pada saat itu apa yang terjadi sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah PENA (qalam), dan Allah memerintahkannya untuk menulis segala sesuatu yang akan terjadi”. (HR. Abu ya’la 1/123, Baihaqi dalam Asma’ was Shifat hal. 271)

Silahkan dibaca juga link ini :
http://pustakaimamsyafii.com/perjalanan-nur-muhammad.html

Wallahu ‘alam

sumber ; http://metafisis.wordpress.com/

Rabu, 13 Juli 2011

Misteri Lubang Buaya

OLEH INDARWATI AMINUDDIN dan AGUS SOPIAN*


HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.

Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.

Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.

Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.

Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.

Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.

Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.

Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.

Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.

Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan V”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.

Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.

Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.

Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.

Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.

Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan.

Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.

Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.

Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. [Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur.]

Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.

Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.

Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.

“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”

Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.

Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.

Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan [wilayah selatan Indonesia] hingga Pulau Buru [wilayah timur Indonesia]. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.

Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar—kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno—akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.

Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.

Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.

Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.

Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.

Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai jadi Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.

Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.

Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya—seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.

Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.

Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.

Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.

Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.

Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.

Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.

Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.

Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.

Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.

Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth [tanpa nama referensi kedua], pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.

Cerita-cerita mistis barangkali sama absurd-nya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.

Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.

Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.

“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.

Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.

Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian, bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.

Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A..Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”

Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober 1965.

Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).

Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.

Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru.

Megawati Sukarnaputri, pengganti Wahid, tak pernah bertindak seperti itu. Tapi, di tahun 2002, ia tak hadir pada upacara 1 Oktober di Lubang Buaya. Apakah ini bentuk penolakan Megawati atas sejarah versi Orde Baru itu, tak pernah jelas. Tapi, sejatinya, ketidakhadiran Presiden dimungkinkan oleh protokoler negara sejak lahirnya Keputusan Presiden tentang perubahan nama peringatan: dari “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi “Hari Mengenang Tragedi Nasional Akibat Pengkhianatan G-30-S PKI terhadap Pancasila”.

Sekadar mengikuti peraturan? Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, yang ditunjuk ketua panitia pusat peringatan saat itu, mengatakan kepada pers bahwa absennya Megawati pada upacara tersebut karena ia tak ingin “membuka luka lama.”


INDARWATI AMINUDDIN, wartawan, pernah bekerja buat Kendari Pos, Kendari Ekspres, menulis di beberapa media massa, di antaranya Pantau.

AGUS SOPIAN, wartawan, pernah bekerja untuk beberapa media di antaranya Bandung Pos dan Pantau, tahun 2002 dikirim Pantau ke Seapa Course on Investigative Reporting, Kuala Lumpur.

sumber : http://mesias.8k.com/

Selasa, 28 Juni 2011

Wejangan Kawruh Beja Sawetah


(Wejangan Pokok Ilmu Bahagia)
Ki Ageng Suryomentaram

Senang – Susah

Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian. Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak atau dihindarinya. Bukan-kah apa yang dicari atau ditolaknya itu tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah selamanya. Tetapi pada waktu orang menginginkan sesuatu, pasti ia mengira atau berpendapat bahwa “jika keinginanku tercapai, tentulah aku bahagia dan senang selamanya; dan jika tidak tercapai tentulah aku celaka dan susah selamanya”.

Pendapat di atas itu teranglah keliru. Bukankah sudah beribu-ribu keinginannya yang tercapai, namun ia tetap saja tidak bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi? Juga sudah beribu-ribu keinginannya yang tidak tercapai, namun ia tetap saja tidak celaka, melainkan bersusah hati sebentar kemudian senang kembali. Jadi, pendapat bahwa tercapainya keinginan menyebabkan rasa bahagia atau tidak tercapainya keinginan menyebabkan rasa celaka, jelaslah keliru. Tetapi setiap keinginan pasti disertai pendapat demikian.

Sebagai contoh, ketika orang berkeinginan sesuatu, misalnya berhajat mengawinkan anaknya, dan karena ia tidak punya cukup uang, ia akan mencari pinjaman. Di dalam men-cari pinjaman itu ia merasa: “Jika usahaku untuk mencari pinjaman ini tidak berhasil, pastilah aku celaka dan merasa malu selamanya”. Andaikata ia gagal memperoleh pinjaman, ia tidak akan merasa celaka, melainkan hanya merasa malu sebentar. Kemudian setelah merasa susah karena ia tidak dapat mengundang siapa pun, tidak dapat menanggap (mempertunju-kan) wayang dan tidak dapat mengadakan janggrungan (tarian bersama antara penari-penari dan tetamu-tetamu dalam pesta perjamuan orang Jawa), ia pun akan merasa senang lagi, bahkan lega hatinya. “Wah, untunglah usahaku mencari hutang tempo hari tidak berhasil. Andaikata aku berhasil, pasti sekarang ini aku akan kelabakan (gelisah) mencari uang untuk membayar hutang itu kembali.” Demikianlah, maka jelaslah bahwa tidak tercapainya keinginan tidak menyebabkan orang merasa celaka.

Demikian juga keinginan yang tercapai tidak menyebab-kan orang merasa bahagia. Misalnya orang berhasrat keras untuk kawin. Ia merasa: “Jika si Anu itu menjadi suami/isteriku, berbahagialah aku.” Dibayangkannya: “Jodohku itu akan kugandeng selama tiga tahun tanpa kulupakan.” Tetapi bila hasrat kawinnya itu benar-benar terlaksana, ia pun tidak akan sungguh-sungguh bahagia, melainkan hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Bahkan sering terjadi dalam perkawin-an bahwa sesudah seminggu saja sudah terjadi pertikaian.

Jadi, teranglah bahwa jika keinginan itu tercapai, maka hal itu tidak menyebabkan bahagia dan jika tidak tercapai, tidak pula menyebabkan celaka. Kenyataannya, bahwa senang dan susah itu tidak berlangsung terus menerus. Sepanjang hidup manusia sejak masa kanak-kanak sampai tua, ia belum pernah mengalami senang selama tiga hari tanpa susah, atau mengalami susah selama tiga hari tanpa senang. Pengalaman semacam itu tidak akan terjadi dan tidak mungkin dapat dialami.

Mulur (Memanjang)

Yang menyebabkan senang ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur, memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat ber-langsung terus menerus.

Misalnya menjelang hari raya orang ingin membeli sarung baru. Kata hatinya: “Bila aku dapat membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari besar nanti, aku dapat melancong ke mana-mana.” Andaikata sarung baru itu dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergem-bira sebentar kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu mulur, maka ia merasa: “Memang, meskipun sarungnya sudah baru, ikat kepalanya pun harus baru.” Maka ia ingin membeli ikat kepala, tetapi uangnya tidak cukup, maka gagallah ke-inginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlang-sung terus menerus.

Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan ikat kepala baru, pasti keinginannya mulur lagi. Hatinya akan berkata: “Sekarang sarung dan ikat kepalanya sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus baru pula?”

Kemudian bila pakaiannya baru sudah ada, tentu keinginannya mulur lagi. Sandalnya, arlojinya, kendaraannya, rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti keinginannya akan mulur lagi: “Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya masih yang lama saja. Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri baru.” Bila nanti mem-peroleh isteri baru, pasti mulur lagi: “Anaknya pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama saja?” Demikianlah keinginan itu mulur sehinga apabila apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang itu tidak tetap adanya.

Keinginan itu terwujud dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Mencari semat ialah mencari kekayaan, keenakan, kesenangan. Mencari derajat ialah mencari keluhuran, kemulia-an, kebanggaan, keutamaan. Mencari keramat ialah mencari kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji.

Misalnya orang mencari semat/kekayaan agar ia berpeng-hasilan tetap. Rasa hatinya berkata: “Jika aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak seperti sekarang ini, kadangkadang hanya tiga rupiah, bahkan kadang-kadang juga rugi.” Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan karena keinginannya mulur sebagai berikut: “Ternyata penghasilan sepuluh rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh lima rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia.” Nanti bila sudah memperoleh dua puluh lima rupiah keinginan pun mulur lagi. “Kalau aku hanya menerima dua puluh lima rupiah saja, terang tidak mungkin aku bahagia. Bahkan hal itu akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon, hingga ke sana ke sini aku membuat bon.

“Hanya jika aku berpenghasilan seratus rupiah, baru aku benar-benar bahagia.” Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus rupiah keinginannya pun mulur lagi dan ia ingin dua ratus, tiga ratus rupiah. Sampai berpenghasilan beribu-ribu rupiah, berjuta-juta rupiah masih kurang terus. Demikianlah keinginan itu mulur sampai pada suatu ketika ia tidak mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap adanya.

Demikian pula dalam usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten wedana, pasti ke-inginannya mulur dan ia ingin menjadi wedana. Kemudian setelah menjadi wedana, tentu keinginannya mulur lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. “Ternyata menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena me-merintah manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitan-nya”. “Mungkin kalau menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin, pasti mulur lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, yang berupa anjing tanah, kacuak, tokek dan sebagainya. Demikian mulurnya keinginan sampai apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali susah la-gi. Jadi senang itu tidak tetap.

Demikian pula dalam usaha memperoleh keramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit lumpuh dengan meniupnya saja. Ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi, karena mulurnya keinginannya. Hatinya berkata: “Kalau hanya dapat menyembuhkan orang lumpuh dengan meniupnya saja, aku tidak berbahagia. Akan tetapi kalau dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya, segan, takut kepadaku dan akan me-mujaku.” la akan berusaha ke sana sini untuk dapat menghidup-kan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidup-kan dua orang saja, maka timbul kekhawatirannya. “Celakalah aku nanti. Jika setiap orang mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa kemari semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan bangkai anjing, babi hutan dan lain-lain.

Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat me-layang-layang mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, tanpa melakukan perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk bekalnya.” Ia akan ke sana ke sini berusaha keras supaya bisa melepaskan sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada. Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya, ia pun tidak akan benar-benar bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi. Hatinya berkata “Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu sampai tidak dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Namun manakala aku bisa menghilang, pas-tilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar tanpa diketahui pemiliknya dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang, uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang, dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai”.

Bila ia kemudian berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya mulur lagi, sehingga ia ingin bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah mulurnya keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka susahlah ia.

Jadi, jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat (kekayaan), derajat (kedudukan), keramat (kekuasaanl, apabila sudah terlaksana pasti akan mulur. Maka senang itu tidak tetap sifat-nya.

Mungkret (Menyusut)

Demikian pula rasa susah pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang berwujud rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit, terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik dalarm jumlah mau-pun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbullah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.

Bila keinginan yang mungkret ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan mungkret lagi. Mungkretnya keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu. Tentunya apa yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya.

Misalnya orang lapar ingin makan, tentu dipilihnya lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti mungkret, sehingga makan nasi dengan garam saja ia sudah senang. Bila nasi dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginanya mungkret lagi, sehingga makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia peroleh, pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga dengan diteguknya air saja, cukup sejuklah lidahnya.

Contoh yang makin jelas lagi ialah bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas, berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar, kemudian senang kembali.

Oleh karena keinginannya mungkret, maka rasanya, “Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik wajahnya bolehlah” Jika yang cantik pun tidak diperoleh-nya, tentu keinginannya mungkret lagi: “Walaupun tidak cantik asal saja masih perawan” Bila ini pun tidak berhasil, mungkret lagi keinginannya “Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak.” Bila pilihan ini masih juga gagal, pasti keinginan-nya mungkret lagi: “Walaupun banyak anaknya, asalkan saja ia sehat” Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi, pasti mungkret lagi keinginannya: “Walaupun cacat, asalkan berwujud orang” Pada-hal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja, pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi.

Dari sebab itulah penderita-penderita cacat, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang bersuami/isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama mungkret keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diingin-kan itu tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap.

Jadi, jelaslah bahwa senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang diinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti mungkret sehingga apa yang di-inginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul.

Jadi, keinginan itu bila mungkret akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang, dan keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret. Mungkret, tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tercapai, susah, mungkret lagi. Maka sifat keinginan itu sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda hingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Rasa Sama

Manusia itu mempunyai keinginan, yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Sifat ini yang menyebabkan rasa hidup orang sejak kecil sampai tua, pasti bersifat sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Siapa saja dan di mana saja rasa hidup orang tentu bersifat sebentar senang, sebentar susah, karena semuanya mempunyai keinginan. Jika tidak mempunyai keinginan, maka ia bukanlah manusia, dan tiap keinginan pasti bersifat seperti di atas tadi.

Jadi, rasa hidup manusia sedunia ini sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Sekalipun orang kaya, miskin, raja, kuli, wali (aulia), bajingan, rasa hidupnya sama saja, ialah sebentar senang, sebentar susah. Yang sama adalah rasanya senang-susah, lama-cepatnya, berat-ringannya. Sedang yang berbeda adalah halnya yang disenangi/disusahi.

Umpama orang kaya senang dapat mendirikan pabrik dan orang miskin senang dapat mendirikan kendil (periuk nasi). Kesenangan kedua orang tadi pada hakekatnya sama. Seorang raja merasa senang bahwa ia dapat menyerbu sebuah kota lawannya, dan memboyong (membawa pulang) puteri. Sedang-kan seorang kuli kereta-api merasa senang bila dapat men-jelajahi gerbong-gerbong dan memboyong (mengangkat) koper. Kedua orang itu sama di dalam merasa senang.

Seorang wali (orang sakti) merasa senang bila dapat terbang di angkasa, sedangkan seorang bajingan merasa senang pula dapat mencopet barang, kedu-anya sama di dalam merasa senang.

Tetapi seorang miskin sering beranggapan bahwa orang kaya itu tidak pernah susah. Anggapan demikian itu keliru, sebab diri orang kaya pun berisi keinginan yang bila tercapai pasti mulur. Misalnya seorang kaya raya, memiliki perusahaan kendaraan bis. Walaupun sudah mempunyai beratus-ratus bis, keinginannya tentu mulur. Ia tentu ingin mempunyai kereta api. Setelah mempunyai kereta api, pasti keinginannya mulur lagi, ia ingin mempunyai kapal laut. Sebelum keinginan mempunyai kapal laut tercapai, tiba-tiba ia menghadapi masalah berdirinya perusahaan bis baru sehingga ia merasa susah karena khawatir kalau disaingi. Maka, orang kaya bagaimanapun, rasa hidupnya tentu sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Demikian pula seorang wali (aulia) sering dikira tidak pernah susah. Perkiraan demikian itu keliru, karena wali pun berisikan keinginan. Misalnya seorang wali yang sakti, seperti dalam dongengnya Sinuhun Kanjeng Sultan Agung di Mataram. Ia raja dan juga wali dan ketika ia hendak pergi ke Banten dengan jalan terbang, dan itu terlaksana, maka senanglah ia. Tetapi ketika hendak pulang ke Mataram, juru tamannya meninggalkannya, maka rontoklah bulu sayapnya, hingga susahlah ia.

Jika wali yang bagaimanapun, rasa hidupnya pasti sebentar senang, sebentar susah. Apabila mengerti bahwa rasa orang di dunia sama saja, yakni sebentar senang, sebentar susah, bebaslah kita dari penderitaan neraka iri hati dan kesombongan.

Iri dan Sombong

Iri adalah merasa kalah terhadap orang lain, dan sombong adalah merasa menang terhadap orang lain. Iri dan sombong inilah yang menyebabkan orang berusaha keras, mati-matian, jungkir balik, untuk memperoleh semat (kekayaan), derajat (kedudukan) dan keramat (kekuasaan).

Hatinya berkata: “Sebaiknya kucari uang sebanyak-banyak-nya agar menjadi kaya seperti orang itu, dan jangan sampai miskin seperti orang ini; agar bisa mengejek orang ini dan jangan sampai diejek orang itu. Dan aku harus memperoleh derajat yang luhur, supaya mulia seperti orang itu, dan jangan sampai hina seperti orang ini, sehingga terhormat seperti orang itu, dan tidak diremehkan seperti orang ini. Harus kucari keramat (ke-kuasaan) yang besar, supaya berkuasa dan dapat menaklukkan orang itu. Jangan sampai lemah dan ditaklukkan orang ini.” Begitu hebat usahanya, hingga ia merasa “lebih baik mati jika tidak tercapai”

Perasaan “lebih baik mati jika tidak tercapai” itu bila sering terlintas dalam pikiran, dapat membangunkan tekad yang aneh-aneh dan bertapa yang aneh-aneh.

Orang yang sedang dihinggapi iri-sombong ini cenderung mencari guru-guru atau dukun-dukun. Pada guru atau dukun itu dimintanya petunjuk: “Bagaimana kyai, hidupku ini mengapa senantiasa susah. Apakah memang nasibku harus dibenci orang? Bagaimana baiknya?” Jika guru atau dukun itu mengatakan: “Sanggupkah anda bertapa secara ditanam selama empat puluh hari? Itu memang berat tetapi bila diberikan karunia, tentu nasibmu akan lebih baik.” Makin gelap pikirannya namun karena terbenam dalam rasa iri-sombong, ia akan menyanggupi-nya: “Baiklah saya bersedia ditanam, asal dapat karunia. Andaikata aku gagal dan mati, itupun justru lebih baik dari pada hidup sekali saja menjadi buah ejekan tetangga-tetangga, kesana diejek, kesini diejek.” Bilamana benar-benar digali lobang untuknya dan ia memeriksanya serta menengok ke kanan ke kiri, tiba-tiba ia merasa ngeri: “Kyai, jika penguburan diriku ditangguhkan saja sampai setelah tanggal dua saja, bagaimana?”

Bila orang mengerti bahwa rasa orang sedunia itu sama, teranglah pandangannya. Kemudian ia tahu bahwa orang yang ditanam selama empat puluh hari, pasti akan mati karena tidak dapat bernapas. Mengingat bahwa jika dibungkam selama dua menit saja, orang sudah kehabisan napas, bagaimanakah bila dita-nam empat puluh hari?

Idam-idaman orang yang iri hati atau sombong ialah asal dapat melebihi orang lain dalam segala hal. Dalam hal makanan, pakaian, perumahan, keluarga, anak-anak dan sebagainya, ia ingin melebihi orang lain. Sedangkan orang-orang lain pun ingin menyaingi atau melebihi orang lain lagi. Dari itu, beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah satu sama lain bersaingan sehingga semuanya jatuh ke bawah.

Bila dalam usahanya untuk melampaui orang lain ia sering tergelincir bahkan ia justru dilampaui orang lain, maka kesallah hatinya, “Baik, sekalipun aku kalah asal saja tetanggaku itu hidupnya merana, maka senanglah hatiku.” Sedangkan tetangga-nya pun berusaha menyusahkan orang lain.

Dari itu, beribu-ribu dan berjuta-juta manusia bila di-jangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah saling menyusah-kan.

Bila dalam usahanya menyusahkan orang lain, sering berbalik menyusahkan diri sendiri maka ia masih tinggal dapat mengumpat orang lain. Sedangkan orang lain pun mengumpat orang lain lagi. Maka, beribu-ribu dan berjuta-juta manusia, bila dihinggapi iri-sombong, tindakannya hanya saling mengumpat. Bahkan tiap kali bercakap-cakap dengan suami/isterinya tidak lain hanya menjelekkan tetangganya, sampai pada soal yang kecil-kecil, misalnya: “Sesungguhnya si anu itukan sudah payah betul. Lihat saja surat gadainya sudah daluwarsa; pohon-pohon kelapanya sudah digadaikan dan ia hanya kebagian yang hanya cukup untuk dimakannya sendiri.”

Padahal untuk melebihi seseorang saja sudah susah-payah, memaksakan diri bertirakat sampai luar batas, Nglawet (nama tempat bertapa), Gua Langse (di pantai Parangtritis, Yogya) dan Gedancer (tempat bertapa). Bila ia telah dapat melebihi seseorang, ia akan melihat bahwa ada orang lain lagi yang me-lebihinya. Sedangkan jumlah orang yang melebihinya tidak ter-hitung banyaknya.

Apalagi untuk melebihi orang lain dalam hal perincian, pastilah tidak akan berhasil, sekalipun sudah bertirakat segala. Misalnya orang melebihi orang Iain dalam kekayaannya, tetapi kalah dalam kedudukannya, lalu berusaha keras untuk melebihi kedudukannya. Kalau sudah melebihi kedudukannya, tetapi ka-lah kekuasaannya, ia akan berusaha keras untuk melebihi ke-kuasaannya. Kalau sudah melebihi kekuasaannya, tetapi kalah tampan wajahnya, ia akan berusaha keras untuk melebihi ketampanannya. Misalkan ia sudah menang dalam hal ketam-panan wajahnya, tetapi kalah muda dalam usia, ia pun berusaha keras untuk membuat dirinya lebih muda tampaknya.

Karena dalam janggrungan (pesta dengan tarian di mana penari wanita menari bersama dengan tamu laki-laki) orang-orang muda dipersilakan masuk gelanggang untuk menari lebih dulu. Akan tetapi bila ia lebih muda ia pun berusaha keras untuk membuat dirinya lebih tua, karena orang-orang tua itu dalam pesta-pesta makan selalu dipilihkan makanan yang serba empuk.

Perasaan orang yang irihati-sombong ini, tiap ka-li menyumpahi orang, jika tidak melebihi tentu dilebihinya. Bila melebihi, dalam hatinya mengejek, “Lihat si Anu itu akhirnya celaka, karena tidak mau percaya padaku, tidak mau meniru jejakku, tentu saja celaka.” Tetapi bila diungguli ia merasa penasaran: “Tidak he-ran si Anu itu kaya, karena bukan main kikirnya. Bila ia buang air kedapatan kacang kedele dalam kotorannya, maka kedele itu dikorekinya dari kotorannya.”

Padahal tiap kali orang ke luar rumah pasti ia bertemu orang yang jika tidak melebihi tentu dilebihinya. Maka hidup orang sedari kecil sehingga tua, bila dihinggapi iri-sombong, hanya merasa mengejek dan diejek orang.

Jika orang hendak mengetahui rasa iri-sombong atau lebihnya sendiri, yang jelas dalam pergaulan, maka hal itu dapat ia jalankan bila sedang nonton pasar malam, menghadiri pesta perjamuan dan sebagainya. Bila di situ orang merasa kalah baik sarungnya ia akan meraba-raba ikat kepalanya dan berkata: “Ikat kepalaku lebih baru.” Bila ikat kepalanya dirasakannya masih kalah, diangkatlah dadanya dan diperlihatkan bajunya “Bajuku memang baik.” Bila ia merasa kalah, diangkatlah sarungnya dan diperlihatkan celana dalamnya, “Celanaku menang lebar.” Bila toh masih merasa kalah, jengkellah ia, maka dikeluarkan pipanya, “Tetapi pipaku menang panjang.”

Pandangan orang yang iri-sombong terhadap semua keadaan dan kejadian di dunia, terbalik-balik, tidak benar. Misal-kan orang ingin memiliki sepeda, dari kerasnya keinginannya ia merasa “Benar-benar aku menderita bila tidak memiliki sepeda, kalau barang-barang lainnya tidak kuhiraukan.” Maka jika dijumpainya seorang mengendarai sepeda, apalagi jika pengen-dara itu tetangga yang dibencinya dan hendak dilebihinya, dan justru dirinya kini jatuh dikalahkan maka begitu ia mendengar suara “kring” bel sepeda itu, terkejutlah ia serentak. Pulang rumah dengan gelisah tidak bisa tidur, hatinya penasaran dan dijelekkannya lawannya, “Tidak heran si Anu itu memiliki sepeda, karena hidupnya tidak lumrah (lazim), bermuka tebal. Lain dengan aku ini yang tidak tega hati menyikut orang”. Demikian pandangan orang terbalik-balik disebabkan rasa iri-sombong. Benarkah orang mengendarai sepeda itu sengaja membuatnya terkejut, gelisah? Tentu tidak!

Jadi, sangat hebatnya pandangan terbalik-balik itu sehingga membikin orang, sehabis memandang perempuan cantik atau laki-laki tampan, maka membenci suami/isterinya. Hatinya mengomel, “Bila kurasakan, suami/isteriku ini memang sungguh-sungguh jelek, ya rupanya, ya jelek hatinya. Kalau sampai menjadi jodohku ini pasti tidak melalui jalan sewajarnya. Dulunya pasti aku diguna-guna sehingga aku terpikat kepada-nya.” Demikianlah terbalik-baliknya pandangan orang yang iri-sombong. Padahal wanita cantik atau laki-laki tampan pastilah tidak sengaja membikin ia benci pada suami/isterinya.

Tenteram

Apabila orang mengerti bahwa rasa orang sedunia sama saja, bebaslah ia dari penderitaan neraka iri hati-sombong, kemudian bisa masuk sorga ketenteraman. Artinya dalam segala hal bertindak seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya dan sebenarnya. Ia akan dapat merasakan rasa hidup yang sebenar-benarnya, yaitu mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Sebab ketika dihinggapi iri-sombong, orang tidak dapat merasakan rasa hidup yang sebenarnya. Dalam hal makan missalnya, walaupun setiap hari makan, orang tidak merasa-kan makanannya, tetapi yang dirasakan hanyalah makanan tetangga-tetangganya. Kemudian mengeluhlah ia, “Kalau si Anu itu memang senang hidupnya, makannya terjamin tiga kali sehari, sepiring penuh, lauk-pauknya enak-enak; berganti-ganti telur daging. Lain dengan diriku ini serba celaka, makannya tidak menentu, lauk-pauknya tidak lain tidak hanya garam sambel, paling mujur tempe. Bila ingin daging ayam, hanya mendapat pekerjaan membubuti (mencabuti) bulunya dan membersihkan isi perutnya.”

Bilamana bebas dari siksaan neraka iri-sombong dan masuk ke dalam sorga ketenteraman, ia akan dapat menasihati dirinya sebagai berikut, “Lho, bagaimana ini, orang mau makan kok menggerutu. Makannya enak atau tidak, jika enak teruskan-lah, jika tidak enak hentikanlah.” Teranglah pandangannya, maka mengerti maksud tujuan orang makan yaitu enak (lezat) dan kenyang. Maksud tujuan ini sudah tercapai, karena tiap kali merasa Iapar, makanlah segala apa yang lazim dimakan orang, maka pasti enak, dan kalau banyak jumlahnya pasti kenyang. Maka tenaga kaki-tangan berkelebihan untuk mencari makanan yang enak serta mengenyangkan itu.

Jadi, rasa hidup yang sebenarnya sebentar senang, sebentar susah, dalam hal makan pasti sebentar enak, sebentar tidak enak, sebentar kenyang, sebentar lapar. Tetapi bila dihinggapi iri-sombong, orang tidak memperdulikan enak atau kenyang, melainkan berusaha melebihi orang lain.

Jika hendak mengetahui iri-sombong atau keinginannya sendiri untuk melebihi orang lain, yang jelas bila kebetulan sedang bersama orang banyak dalam kedai makanan, baru saja datang orang segera berteriak “Godog!” (minta direbuskan suatu makanan). Kemudian baru saja masakan tadi disodorkan, ia sudah minta lagi “Goreng! Cabenya biar banyak!” Bila dilihatnya tamu lain memegang telur, ia pun mengambil ayam goreng, dipegangnya dengan kedua tangannya. Jika toh masih merasa kalah, hatinya penasaran diangkat kakinya keatas meja sembari bersiul, sekalipun tidak bersuara.

Oleh karena dihinggapi iri-sombong sehingga gelap pandangannya, maka walaupun sudah beranak-cucu, orang tidak dapat merasakan rasa bersuami/isteri. Setiap kali menjumpai suami/isterinya, yang di-rasakan suami/isteri orang lain, “Si Anu itu hidupnya memang enak lantaran mempunyai suami/isteri yang menyenangkan, perhatiannya besar, lagi setia. Lain dengan diriku ini serba celaka, mempunyai suami/isteri rewel sekali, sedikit-dikit marah, sedikit-dikit marah.”

Bila sudah bebas dari siksaan neraka iri-sombong dan masuk sorga ketenteraman, orang lalu dapat menasihati dirinya: “O, bagaimana ini, orang bersuami/isteri kok mengomel. Sesungguhnya perkawinannya enak atau tidak, jika enak diteruskan, jika tidak enak ya diceraikan saja.” Maka tenanglah pandangannya dan mengerti bahwa rasa bersuami/isteri itu nikmat.

Bila ingin mengerti kenikmatan bersuami/isteri, ialah pada waktu malam hari udara dingin, lagi turun hujan, berdesak-desak dengan suami/isteri pun hangat. Bila pinggangnya kaku pun lantas lemas, tidurnya pulas, bangun pagi merasa segar, bekerja penuh semangat. Kebalikannya jika tidak bersuami/isteri tidak demikian nikmat. Pada malam yang dingin, apalagi turun hujan, badannya benar-benar dingin. Berdesak-desak hanya dengan balai-balai, pinggangnya kaku tetap kaku, ingin tidur tidak dapat memejamkan mata, dari pukul sembilan hingga pukul tiga malam belum juga pulas karena memikirkan suami/-isteri orang lain. Maka pada duda, janda, jejaka, gadis, bila dijangkiti iri-sombong, seringkali betah bergadang. Tetapi bila tidak, hanyalah sekali tempo saja.

Jadi rasa hidup yang sebenarnya ialah mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Dalam perkawinan tentu sebentar nikmat, sebentar tidak nikmat, seben-tar nikmat, sebentar tidak nikmat. Bila keluar dari neraka iri-sombong dan masuk surga ketenteraman, orang akan bebas dari kewajiban yang berat-berat. Kebiasaan orang itu mewajibkan dirinya sendiri: “Orang hidup itu harus begini, makanannya harus begini, pakaiannya harus begini, rumahnya harus begini, tindak tanduk terhadap tetangga, suami/isteri serta anak-anak-nya harus begini.” Semua keharusan-keharusan itu adalah hal-hal yang berat sehingga tidak dapat dilaksanakan, karena ber-tentangan antara kewajiban yang satu dengan kewajiban yang lain.

Sebagai contoh, misalnya orang menerima undangan dari tetangganya yang punya hajat pesta mengawinkan anaknya. Ia akan mewajibkan dirinya untuk datang hadir dengan pakaian baru, serta membawa uang cukup untuk menyumbang dan main kartu domino. Tetapi keadaan tidak memungkinkannya untuk mempunyai pakaian baru dan uang, oleh karena itu ia merasa susah. Hendak datang hadir takut, dan hendak tidak hadir pun takut.

Bila lepas dari neraka iri-sombong dan masuk surga ketenteraman ia akan dapat menasihati dirinya “Lho, bagaimana langkahku ini, mau datang takut, mau tidak datang pun takut. Apakah harus setengah datang dan setengah tidak datang? Lalu bagaimana wujud tindakan setengah datang dan setengah tidak datang itu? Apakah melongok-longok di depan pagar saja, ataukah terus menerobos masuk ke dapur, membantu cuci piring?”

Dengan kesadaran di atas, pandangannya semakin terang: “Sudahlah, jika mau datang, ya datang saja, jika tidak mau datang, ya tidak usah datang. BiIa tidak punya pakaian baru, pakailah pakaian lama, hal itu sudah sebenarnya. Bila tidak punya uang, maka tidak dapat menyumbang dan main domino, pun sudah selayaknya.” Jadi rasa hidup yang benar adalah sebentar senang, sebentar susah, yang dalam hal me-nentukan kewajiban mesti suatu waktu begini, suatu waktu tidak begini.

Bila orang mengerti bahwa rasa hidup manusia sedunia sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, bebaslah ia dari neraka iri-sombong dan masuklah dalam surga ketenteraman. Kemudian dalam usahanya mencari kekayaan, kedudukan, kekuasaan, dengan cara seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya, sebenarnya, yaitu hidup tenteram.

Rasa Abadi

Keinginan itu bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Pada hakekat-nya keinginan itu langgeng (abadi), artinya sejak dulu sudah ada, kini pun ada, kelak pun selalu ada.

Ketika orang masih dalam kandungan ibunya, keinginan-nya sudah ada, walaupun tidak disadarinya. Seperti halnya bayi menangis berkeinginan menyusu, Ketika masih sebagai darah pun sudah tumbuh keinginan yang menumbuhkan badan, kepala, tubuh, tangan, kaki dan sebagainya. Ketika belum ada dalam kandungan dan masih ada pada ayah dan ibunya pada waktu ayah dan ibunya saling mengungkapkan rasa suka sama suka, hal itu merupakan gejala keinginan manusia yang hendak lahir.

Demikian keinginan itu tidak berawal, ketika bumi dan langit belum ada, keinginan sudah ada. Demikian pula keinginan tidak berakhir, bila nanti orang sudah mati, badannya rusak, busuk, keinginan masih ada saja. Bila nanti bumi dan langit tidak ada, keinginan masih tetap ada. Jadi keinginan itu tanpa awal dan tanpa akhir. Oleh karenanya keinginan itu abadi, Sebab keinginan itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya, tetapi justru berupa asal, dari itu abadi. Keinginan ialah asal dari pada hidup, benih hidup, yang menyebabkan hidup, oleh karenanya abadi.

Seperti juga asal semua barang jadi itu bersifat abadi. Wujud barang jadi (bahasa Jawa: dumadi) itu seperti rokok, korek api, cangkir, piring, rumah, dunia, bintang, bulan, matahari dan sebagainya. Asal ba-rang jadi misalnya rokok, adalah abadi, tidak berubah tidak berkurang atau bertambah. Bila rokok itu dibakar, rokok itu hanya menjadi abu; sedang asal dari pada rokok masih tetap ada, tidak kurang, hanya wujud-nya kini abu. Bila abu itu nanti ditumbuk, hanyalah menjadi tumbukan abu, sedang asal rokok masih tetap, tidak kurang tidak lebih, yang kini berwujud tumbukan abu. Sekalipun tum-bukan abu ini nanti dibuang ke luar dunia, asal rokok itu masih tetap ada tidak kurang tidak lebih, hanya kini ada di luar dunia.

Demikian pula keinginan, bagaimanapun dihancurkannya melalui kesusahan, penderitaan malu, tidak akan berubah bersama sifat-sifatnya. Sebab barang abadi itu pasti bersifat abadi pula. Keinginan itu bersifat sebentar mulur sebentar mungkret, sebentar mulur sebentar mungkret dan rasanya sebentar senang sebentar susah, sebentar senang sebentar susah. Sedang rasa manusia pun sebentar senang sebentar susah, sebentar senang sebentar susah. Jadi keinginan itu adalah manusia, maka manusia itu abadi (lestari), sebentar senang sebentar susah. Bila keabadian manusia ini dimengerti, orang akan bebas dari penderitaan neraka penyesalan dan kekhawatiran.

Sesal – Khawatir

Menyesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati, prihatin, hingga merasa celaka.

Menyesal ini rasanya: “Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini, tidaklah celaka begini.” Menyesal ini ialah takut akan pengalaman masa lampau yang menyebabkannya jatuh celaka, susah selamanya dalam keadaan miskin, hina, lemah.

Bila orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut: “Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar susah.” Kemudian lenyap penyesalan semacam tadi. Tetapi jika tidak dimengerti, penyesalan itu berlarut-larut hingga takut akan hal yang aneh-aneh, seperti takut terkutuk, takut durhaka, rasanya: “Dulu andaikata aku tidak terkutuk oleh si Anu, tidak durhaka, tentu aku sudah bahagia dan tidak celaka.”

Kalau mengerti maka orang dapat menyadari, “Walaupun dulu terkutuk durhaka atau tidak durhaka, rasanya tentu seben-tar senang sebentar susah,” dan lenyaplah penyesalan semacam itu tadi.

Berlarut-larutnya penyesalan ini sampai menimbulkan ketakutan pada hal yang makin aneh ialah takut hidupnya tersesat. “Andaikata dulu tidak menjadi anak ibu dan ayah ini, pasti aku bahagia, dan tidak celaka seperti ini.” Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, ia dapat menasehati dirinya sendiri: “Walaupun dulu menjadi anak ibu-ayah ini atau tidak, tentu rasanya sebentar senang sebentar susah”, maka lenyaplah penyesalan tadi.

Ketakutan hidup tersesat di atas perinciannya sampai pada takut tersesat mempunyai suami/isteri dan anak si Anu, rasanya: “Andaikata dulu aku tidak salah memperoleh suami/-isteri dan anak si kunyuk (si dogol) itu, pastilah aku bahagia dan tidaklah celaka.” Tetapi bila ia mengerti bahwa orang itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun dulu aku mem-punyai suami/isteri dan anak seperti kunyuk-kunyuk itu atau tidak, rasaku tentu sebentar senang, sebentar susah,” maka lenyaplah penyesalan tadi.

Demikian pula kekhawatiran yang berupa takut akan pengalaman yang belum dialami, kalau-kalau jatuh celaka, susah selamanya, dalam keadaan miskin, hina, lemah. Rasanya: “Bagaimanakah nanti akhirnya bila aku tidak mencapai kebahagiaan yang kucita-citakan, tetapi tetap celaka seperti sekarang ini?” Tetapi jika orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun kelak akan terjadi apa saja, misalkan bumi dan langit merapat, rasanya pasti sebentar senang sebentar susah,” maka lenyaplah ke-khawatiran tadi.

Jika tidak dimengerti, kekhawatiran itu berlarut-larut sehingga takut akan hal yang aneh-aneh seperti takut kuwalat, takut durhaka. Padahal apakah kuwalat dan durhaka itu saja tidak dimengerti. Namun ditakuti juga, aneh bukan? Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Mana ada orang kuwalat atau durhaka? Kalau toh ada, rasanya pasti hanya sebentar senang sebentar susah. Katanya orang kuwalat itu kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Kalau begitu malah bisa merasakannya. Sebab yang sudah dialami berpuluh-puluh ta-hun hidup dengan kepala di atas dan kaki di bawah ternyata tidak enak. Seperti pada waktu cekcok de-ngan suami/isterinya atau tetangganya. Lihatlah, orang-orang dengan kepala di atas, kaki di bawah itu.” Dan lenyaplah kekhawatiran di atas tadi.

Berlarut-larutnya kekhawatiran itu sehingga takut akan hal yang semakin aneh seperti mati tersesat. Alangkah anehnya orang mati bisa tersesat. Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya: “Bagaimana mungkin orang mati itu tersesat. Kalau tersesat tentu ke arah hidup yang pernah dialami ini. Lagi pula jika ada mati tersesat tentu ada pula hidup tersesat. Padahal ketika hendak hidup tanpa ber-tanya kepada siapa pun, tanpa bekal apa-apa, ia menjelma tepat dengan hidung di atas mulut, kuping di kedua sisi, kepala di atas, kaki di bawah dan sebagainya, melalui jalan yang benar.” Kemudian lenyaplah kekhawatiran yang aneh tadi.

Khawatir takut mati tersesat ini perinciannya hingga takut setelah mati akan menjelma sebagai babi-hutan. Alangkah anehnya! Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, orang dapat menasehati dirinya: “Bagaimanakah orang mati dapat menjelma menjadi babi-hutan. Andaikatapun benar, maka orang justru dapat merasakan bagaimana hidup sebagai babi-hutan. Pasti hanya berdengus-dengus mencari ubi. Dan pastilah tidak takut dihentikan dari pekerjaan, melainkan takut di semak-semak hutan. Sedangkan yang dialami berpuluh-puluh tahun hidup sebagai manusia pun tidak enak. Misalnya ketika mencari pinjaman tidak berhasil, atau ditagih hutangnya tidak sanggup membayarnya. Enakkah hidup sebagai orang?” Kemudian lenyaplah kekhawatiran tadi.

Menyesal dan khawatir ini mengandung anggapan atau pendapat bahwa orang itu dapat memperoleh senang atau susah yang abadi. Maka dengan dikejar secara mati-matian rasa senang itu dan ditolaknya secara mati-matian rasa susah itu, menimbul-kan ketahayulan pada dirinya yang mengakibatkan penderita-an. Tahayul itu ialah menghubung-hubungkan sebab dan akibat yang tidak ada sangkut-pautnya. Sebagai contoh, misalnya orang berdagang sedang sial, tidak berani dagang, maka berkatalah: “Kesialan ini tentu lantaran aku tidak membakar kemenyan dan tidak bersembahyang pada malam menjelang hari Jum’at yang lalu, sehingga daganganku tidak laku.” Jelaslah membakar kemenyan dan bersembahyang itu tidak ada sangkut paut dengan kesialan dagangan tidak laku. Namun orang yang bertahayul itu menghubung-hubungkan juga.

Contoh lain yang lebih jelas, misalnya seorang anak tengah bermain, tiba-tiba sakit kejang-kejang, maka orang berkata: “Anak itu pasti dijegal oleh syaitan penunggu jalan perempatan itu, oleh karena itu kejang-kejang badannya.” Padahal jelas anak sakit kejang tidak bersangkut-paut dengan syaitan penunggu jalan. Untuk menerangkan syaitan itu apa, orang tidak tahu. Apakah syaitan itu berkaki dua atau empatkah, bertelur atau menyusuikah, orang tidak tahu. Namun orang bertahayul menganggapnya bisa menjegal.

Contoh yang lebih jelas lagi, tatkala gunung Merapi meletus, orang bertahayul menghubungkannya begini: “Peris-tiwa itu adalah pernyataan Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Laut Selatan) yang marah lantaran gagal dalam mencari korban untuk pesta perkawinan putra/putrinya, sehingga diletuskannya gunung Merapi, beledar-beledur-beledar-beledur.” Jelaslah Kanjeng Ratu Kidul tidak ada sangkut-paut dengan letusan gu-nung Merapi. Karena siapakah dan apakah Kanjeng Ratu Kidul itu saja, orang tidak tahu. Namun orang bertahayul memaksa menghubung-hubungkannya demikian.

Ketahayulan itu menyebabkan orang bertapa dan ber-pantang yang aneh-aneh, seperti merendam diri selama satu jam dalam tempo empat puluh hari, dengan pendapat bahwa: “Jika setiap malam merendam diri sambil mengucapkan mantera-mantera ini, dalam waktu empat puluh hari pasti aku akan mem-peroleh karunia dan senanglah aku selama-lamanya”. Tetapi bila me-ngerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya dan tahulah bahwa hasil orang merendam diri selama itu, hanyalah menggigil kedinginan semata-mata. Bahkan isterinya terlanjur kesepian kedinginan tidak dapat tidur sebab me-nunggu-nunggunya. Dalam pada itu mertuanya pun membenci karena melihat anaknya tidak dilayani sewajarnya melainkan ditinggalkannya tiap malam hanya untuk merendam diri.

Tindakannya berpantang yang aneh-aneh itu seperti pantang makan dan pantang tidur. Padahal orang lapar itu enaknya kalau makan dan orang mengantuk itu enaknya kalau tidur. Jadi orang itu memantang hal-hal yang enak-enak, namun mengeluh bahwa tidak pernah mengalami keenakan dalam hi-dupnya. Tetapi jika mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa ha-sil berpantangan makan dan tidur itu lapar dan kan-tuk belaka.

Pantangan aneh-aneh itu kalau berlarut-larut sehingga berpantang berdekatan dengan suami/isteri sendiri, enakkah rasa yang berpantang dan yang dipantang itu? Pastilah tidak. Itu pun belum tentu ia dapat bertahan dalam pantangannya. Nanti baru berjalan seminggu saja, bila tidak diawasi, diam-diam, su-dah menyerobot. Setelah itu saling menyesali: “Orang sudah dipesan sedemikian rupa! Orang sedang prihatin bertapa supaya memperoleh kurnia! Mengapa kamu pun masih mau saja dan kini semua usahaku batal, dan untuk mulai lagi aku tidak sanggup.”

Tetapi jika orang mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa hasil berpantang isteri sendiri adalah tidak betah. Demikian sifat katahayulan yang mendorong orang bertapa dan berpantang yang bukan-bukan, karena ber-pendapat bisa senang atau susah selama-lamanya.

Tatag (Tabah)

Apabila kita mengerti bahwa menusia itu abadi, keluarlah orang dari neraka menyesal-khawatir dan masuk surga ketabah-an. Ini berarti berani menghadapi segala hal. Berani menjadi orang kaya atau miskin, menjadi raja atau kuli, menjadi wali (orang suci) atau bajingan. Karena ia mengerti bahwa semua itu rasanya pasti sebentar senang, sebentar susah. Teranglah pan-dangannya dan mengerti bahwa semua pengalaman itu tidak ada yang mengkhawatirkan atau yang sangat menarik hati.

Pada pokoknya yang ditakuti itu adalah kesusahan, padahal orang tentu mampu menderitanya. Sudah terbukti beribu-ribu kesusahan yang dialami, ia mampu menderitanya. Kesusahan yang paling hebat adalah merasa sangat malu atau menderita sakit sangat berat. Sedangkan jika hanya sangat malu dan sa-ngat sakit saja, pasti orang mampu menderitanya. Wa-laupun ia selalu mengeluh: “Rasa malu kali ini benar-benar melukai hatiku, aku tidak kuat menanggungnya. Itu lain dengan pengalaman-pengalaman yang lampau!” Tetapi bila lepas dari neraka menyesal-khawatir dan masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut bukti pada diri sendiri yang sering bohong. “Malu yang mana yang kau tidak kuat menanggungnya? Kenyataan yang tengah dialami ini, benar menimbulkan rasa malu, benar-benar menyebabkan kau meringis sehingga kau benar-benar tidak berani keluar rumah menemui orang. Namun meskipun demikian kau tetap kuat menanggungnya juga.”

Demikian pula di waktu sakit, orang mengeluh: “Sakitku kali ini benar-benar berat, benar-benar aku tidak kuat me-nanggungnya. Lain dengan sakit yang lampau!” Tetapi bila lepas dari sesal-khawatir serta masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut bukti pada diri-sendiri yang biasa membohong: “Sakit yang manakah yang kau tidak kuat menderitanya? Kenyataan yang sedang dialami ini benar-benar sakit berat sehingga kau benar-benar merintih, namun meskipun demikian tetap kuat me-nanggungnya. Padahal betapapun hebatnya orang menderita sakit ia hanya berakhir dengan mati. Sedangkan kalau cuma mati saja ia mesti kuat menjalaninya, dan itu telah dialami oleh beribu-ribu orang yang mati. Kalau aku mati, pasti perjalananku sama dengan orang-orang yang telah mati itu.”

Oleh karena itu, bila orang kuat menanggung semua pengalaman dan dapat mencukupi apa yang diperlukannya maka tumbuhlah rasa kaya. Tiap kali merasa malu, asal saja meringis sudah cukup. Artinya orang tidak kehabisan rasa meringis bila mendapat malu dan tidak kekurangan rintihan bila menderita sakit. Dan menjelang saat kematian, asal saja berdiam diri sudah cukup.

Pada pokoknya yang diinginkan adalah rasa se-nang dan rasa senang ini pasti tercapai. Di mana saja, kapan saja, bagai-mana saja, arang mesti mengalami senang. Misalnya orang men-derita susah karena terbakar habis rumahnya. Bila ia menemu-kan sebuah celananya saja yang tidak turut terbakar, ia tetap bisa merasa senang. “Wah, untunglah celanaku tidak terbakar.” Misalnya orang menderita susah karena terlindas mobil kakinya hingga putus. Pada waktu sadar dari pingsannya ia pun masih dapat merasa senang. “Wah, untunglah kepalaku tidak terlindas sekalian.” Bila kepalanya pun kelindas hingga mati, masih ia bi-sa senang, “Wah, untunglah isteriku tidak ikut terlindas.”

Apabila orang mengerti bahwa semua peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak ada pula yang sangat menarik hati, maka teranglah pandangannya, serta bebaslah ia dari barang-barang di atas bumi dan di kolong langit ini. Karena ia mengerti bahwa barang-barang di atas bumi di kolong langit itu tidak dapat menyebabkan orang bahagia atau celaka. Juga tidak dapat menyebabkan orang senang atau susah.

Karena pada hakekatnya, yang menyebabkan senang itu ialah keinginannya tercapai, dan yang menyebabkan susah itu ialah keinginannya tidak tercapai. Tetapi bukanlah barang-barang yang diinginkannya.

Misalnya bila hujan dianggap menyenangkan, maka tiap kali turun hujan orang mesti senang. Tetapi Kenyataannya tidak demikian. Bagi orang yang sedang menyelenggarakan pertun-jukan ketoprak (sandiwara Jawa), bila hujan turun maka ia merasa susah. Kebalikannya, bila hujan dianggap menyusahkan, tiap kali hujan turun orang mesti merasa susah. Kenyataannya pun tidak demikian. Bagi petani yang sedang menanam padi, bila hujan turun maka ia merasa senang.

Contoh lain yang lebih gamblang dan terang. Bila orang bersuami/isteri yang mempunyai anak dianggap senang, maka setiap orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap senang saja. Padahal yang sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercekcok dengan suami/isterinya, dan anak-anaknya rewel, orang pasti merasa susah. Kebalikannya, jika bersuami/-isteri dan beranak itu dianggap susah, maka setiap orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap susah saja. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercumbu-mesra dengan suami/isteri dan menimang-nimang anaknya, pasti orang merasa senang.

Jadi, jelaslah bahwa barang-barang itu tidak menyebab-kan orang senang atau susah. Oleh karena itu, di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang-barang yang pantas dicari, ditolaknya atau dihindari secara mati-matian.

Mengawasi Keinginan

Manusia itu semua sama, yakni abadi. Rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah, demi-kian seterusnya. Bila kebenaran itu dimengerti, keluarlah orang dari penderitaan neraka iri-sombong, sesal-khawatir yang me-nyebabkan prihatin, celaka, dan masuklah ia dalam surga ten-teram dan tabah yang menyebabkan orang bersuka-cita, bahagia.

Setelah bersuka-cita dan bahagia, maka dapatlah orang menyadari dirinya sendiri sewaktu timbul keinginan apa-apa. Setiap keinginan itu pasti mengandung rasa takut kalau-kalau tidak tercapai. Keinginan inilah yang segera diyakinkannya: “Keinginan itu jika tercapai tidak menimbulkan bahagia, melain-kan senang sebentar yang kemudian akan susah lagi. Dan bila tidak tercapai pun tidak menyebabkan celaka, hanyalah susah sebentar yang kemudian akan senang lagi.” Maka ia bisa me-nantangnya: “Silakan keinginan, berusahalah mati-matian men-cari senang-senang abadi, dan berdayalah mati-matian menolak susah abadi, pastilah tidak berhasil. Kamu (keinginan) tidak mengkhawatirkan lagi”.

Bila orang dapat meyakinkan keinginannya sendiri demikian, lenyaplah rasa prihatin. Berbareng lenyapnya prihatin, tumbuhlah si pengawas keinginannya sendiri yang mengerti keinginannya sendiri.

Benih Pengetahuan

Si pengawas keinginannya sendiri ini ialah rasa aku, rasa ada. Orang itu tentu berasa aku, tidak bisa tidak berasa aku. Setiap berasa aku tentu berasa ada. Berasa aku tetapi tidak berasa ada, tidaklah demikian.

Si pengawas itu abadi karena ia itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya untuk membuatnya, tetapi malahan sebagai asal dari semua barang dan hal. Ia itu asalnya rasa aku-senang, aku-susah. Si pengawas ini abadi dalam mengawasi keinginan-nya sendiri yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret dengan rasa sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Rasa abadi yang mengawasi keinginannya sendiri itu, ialah abadi senang dan abadi bahagia.

Ketika si pengawas belum timbul, orang merasa “akulah berkeinginan, aku senang, aku susah.” Ia itu masih sebagai benih pengetahuan yang mengetahui tindak-tanduk manusia, serta belum timbul rasa senang dan bahagia. Wujudnya si pengawas ketika itu belum timbul, tetapi masih sebagai benih ialah seperti contoh berikut ini. Misalnya orang ingin buang air, dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini tergesa-gesa menuju ke kakus, pastilah ingin buang-air.” Yang mengerti bahwa dirinya ingin buang air ini, tidaklah ikut berkeinginan buang air, akan tetapi hanya mengerti kehendaknya saja, yaitu si pengawas ketika belum tumbuh tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih jelas ialah orang yang makan cabe merasa pedas. Dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini megap-megap mencari minuman, tentulah kepedasan.” Yang mengerti bahwa dirinya kepedasan ini tidak-lah turut kepedasan, melainkan mengerti bahwa dirinya kepe-dasan, yaitu ketika si pengawas belum timbul tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih dekat, misalkan orang merasa malu, dalam diri orang itu tentu ada yang mengetahui dan mengerti: “Aku ini pasti mendapat malu, karena meringis-ringis dan tidak berani keluar rumah” Yang mengerti dirinya memperoleh malu ini, tidaklah turut merasa malu, melainkan mengertinya saja, yaitu ketika si pengawas belum timbul, tetapi masih sebagai benih pengetahuan. Dan orang merasa “Akulah yang berkeingin-an, yang senang, yang susah, yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air, adalah aku.”

Bila si pengawas sudah timbul, lenyaplah rasa prihatin, kemudian orang merasa “Aku bukanlah keinginan”, dari sini ia akan merasa “Yang senang dan susah bukanlah aku”, dari sini ia merasa “Yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air bukanlah aku.”

Bahagia

Maka orang akan merasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia.” Bila orang sudah mempunyai rasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia”, maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri, ia merasa “Itu bukanlah aku.” Begitu juga dalam menanggapi dunia dengan segenap isinya dan semua kejadian-kejadian, orang pun merasa “Itu bukanlah aku.”

Demikianlah, rasa aku itu bahagia dan abadi. Karena itu, di mana saja, kapan saja, bagaimana saja, bahagialah orang itu. Demikianlah pengetahuan orang hidup bahagia.

Penutup

Demikian keseluruhan rasa-rasa manusia. Rasa-rasa yang diterangkan di sini hanyalah yang pokok-pokok saja. Adapun manfaatnya hanyalah sebagai batu loncatan untuk mempelajari perincian rasa-rasa sendiri.

Yang menjadi penghalang untuk mengetahui perincian rasanya sendiri ialah cita-cita dalam arti umum. Wujud cita-cita itu adalah: “Mencari senang abadi”, seperti yang telah dibahas dalam buku ini. Bila diteliti sampai benar-benar jelas cita-cita itu lenyap, artinya orang akan berasa bahwa “Cita-cita ini bukanlah aku.”

Bila cita-cita itu telah diketahui, dapatlah orang mengetahui perincian rasa-rasanya sendiri. Ternyata bekerjanya (prosesnya) rasa-rasa itu menurut hukum alam. Bila hukum alam itu diketahui, orang akan bertindak sesuai hukum alam itu dan merasa bahagia.